Aku baru aja selesai baca ‘Three Cups of Tea’, tulisan Greg Mortenson & David Oliver Relin. Kisah nyata Greg Mortenson, seorang mantan pendaki gunung yg berubah menjadi aktivis di bidang pendidikan, terutama bagi anak-anak perempuan di daerah Lembah Skardu, Pakistan Utara.
Dimulai dari kegagalannya mencapai puncak K2, Himalaya, dalam keadaan letih dan hampir kehabisan oksigen, terpisah dari pemandu sekaligus portirnya, Mortenson tersesat masuk Desa Korphe yang belum pernah dilihatnya di peta. Ia dirawat oleh keluarga Haji Ali, nurmadhar (tetua kampung) desa itu, yang kelak menganggapnya seperti anak dan menjadi mentornya. Ia tinggal di rumah Haji Ali sampai pulih kesehatannya, dan sempat berkeliling kampung miskin di pegunungan Himalaya itu. Dilihatnya anak2 ‘bersekolah’ di lapangan terbuka, menulis di atas tanah dengan ranting pohon. Hatinya terketuk untuk membangun sekolah yang layak untuk anak2 itu, dan ia menjanjikannya kepada Haji Ali.
Ia kembali ke Amerika, berusaha mengumpulkan dana untuk mewujudkan janjinya. Ia mengirim 580 pucuk surat kepada tokoh2, orang2 kaya, dan hanya 1 yang berbalas: isinya cek senilai US$ 100. Bisa apa uang segitu? Akhirnya ada seorang ilmuwan sekaligus jutawan, Jean Hoerni, yg bersedia menyumbangkan US$ 12.000 untuk sekolah pertama, dengan ancaman: jangan main-main!
Mortenson kembali ke Korphe, membelanjakan dolar demi dolar untuk material sekolah. Ternyata baru disadari, butuh jembatan untuk mengangkut material itu ke atas. Mereka membangun jembatan dulu, sehingga pembangunan gedung sekolah tertunda. Mortenson kecewa, tapi Haji Ali menenangkannya, sementara di Amerika mulai banyak pendukung gerakan Mortenson. Jean Hoerni yang sudah merasa hidupnya segera berakhir mendirikan yayasan bernama Central Asia Institute, mengangkat Mortenson manjadi direkturnya, dan menyumbangkan jutaan dolar.
Sekolah pertama selesai dibangun, menyusul sekolah2 lain di kampung lain, bahkan sampai menyeberang ke Afghanistan, di tengah reruntuhan perang setelah Amerika menyerbu Afghanistan untuk menumbangkan Taliban. Berbagai rintangan dihadapi, baik di Pakistan, Afghanistan maupun di Amerika, namun selalu saja ada penyelamat di saat2 genting. Sulit dipercaya, ini kisah nyata.
Buku ini mengajarkan kita banyak hal.
Ketulusan masyarakat pegunungan Himalaya yang selalu menyambut orang asing dengan keramahan dan suguhan teh. Cangkir pertama: kamu masih orang asing. Cangkir kedua: kamu tamu yang dihormati. Cangkir ketiga: kamu adalah anggota keluarga, dan kami akan mengorbankan apa pun untuk keluarga.
Semangat anak2 pegunungan Himalaya untuk menempuh pendidikan dan keinginan kuat untuk kembali, memperbaiki taraf kehidupan di kampung halamannya.
Kegigihan Mortenson memperjuangkan pendidikan bagi anak2, terutama perempuan, di kampung2 di ‘halaman belakang’ Taliban. Usahanya meyakinkan berbagai pihak di Amerika bahwa untuk menumpas terorisme, yang dibutuhkan adalah pendidikan dan bukan senjata.
Kita juga belajar untuk tidak berprasangka buruk kepada orang asing. Memang pemerintah Amerika, khususnya era George W. Bush, punya ‘hobi’ memberikan cap ‘teroris’ kepada pihak lain khususnya kalangan Islam dan kemudian memerangi mereka. Tapi tidak semua warga negara itu bersikap begitu. Mortenson adalah salah satu contohnya.
Posted by: mbakpipit | December 10, 2008
three cups of tea
Posted in Uncategorized
Recent Comments