kemarin siang aku nonton ‘laskar pelangi’ di e-plaza, simpang lima.
jujur, aku agak kecewa sama film ini. ga sebagus bukunya. cut mini terlalu cantik utk memerankan bu muslimah. rieke oneng kurang melayu logatnya, dan mathias muchus kurang mewakili sosok ayah ikal yg pendiam. selebihnya, pemain2 cilik itu justru lebih cocok. tampang mereka cukup ‘udik’, mungkin karena mereka memang anak2 asli belitong.
seperti banyak film berbasis novel, film ini juga ga terlalu patuh sama novelnya. banyak improvisasi di sana-sini, termasuk ada tokoh pak bakri, guru sd muhammadiyah yg akhirnya tergoda pindah mengajar di sekolah lain. ada juga pak mahmud, guru sd pn timah yg naksir bu mus. ada lagi pak zul, tokoh yg bersimpati sama sd muhammadiyah n rajin kirim beras ke sekolah. trus tokoh pak harfan yg ‘dimatikan’ mendekati akhir film, yg bikin bu mus hampir patah semangat mengajar anak2 sendirian. selebihnya, jalan cerita hampir sama dg novel. banyak adegan yg bikin kita terharu, sedih, kadang juga bikin ketawa. waktu ikal jatuh cinta gara2 lihat kuku2 cantik aling dan dunia sekitarnya seakan berbunga2, aku ketawa ngakak. jangan2 kita semua ngerasa gitu waktu jatuh cinta, haha! dan waktu ikal patah hati dan rasanya barang2 di toko sinar harapan itu rubuh semua, aduh, kasihan…..
adegan paling menarik adalah karnaval 17 agustusan, pas anak2 sd muhammadiyah di bawah komando mahar menari sampai gatal2 dan akhirnya juara 1. piala dipajang di lemari kaca yg susah ditutup karena longgar. berkali2 bu mus menutup pintu kaca itu, terbuka lagi. lintang yg menyelesaikan masalah, pintu lemari itu diganjal dg kertas. cukup cerdas.
yg paling bikin sedih adalah lintang terpaksa putus sekolah, nggantiin tugas bapaknya yg meninggal. dia harus melaut, menghidupi diri n adik2nya. saat dia ke sekolah utk pamitan ke guru dan teman2nya, n ikal ngejar dia sambil nangis….
well, memang ga ada karya yg sempurna, apalagi film ini memang udah ‘terbebani’ oleh novelnya yg best seller n dipuji banyak kalangan. biar gimana juga, salut ma riri riza n mira lesmana yg udah menghidupkan roh novel ini ke film. n yg ga boleh dilupain, semangat yg ditiupkan oleh buku n film ini. n kita diingatkan bahwa selama ini dunia pendidikan sudah meninggalkan kaum miskin, seolah2 mereka ga berhak sekolah. mudah2an setelah ini dunia pendidikan kita jadi lebih manusiawi, ga cuma berorientasi ke angka n duit. semoga.
pembaca LP sudah punya film tersendiri dalam benaknya berupa imajinasi, jadi setiap pembaca pasti merasa ada yang kurang, tapi menurut saya pesan dan semangat yang ada dalam novel tersebut sudah tersampaikan dengan baik. Dan kalau dibandingkan dengan film-film Indonesia yang lain mungkin LP adalah film pendidikan terbaik yang pernah dibuat sineas Indonesia.
Kita berharap ada LP-LP berikutnya yang mampu membangkitkan kembali perfilman Indonesia
By: irul on October 17, 2008
at 12:10 pm
betul pak… makanya saya tetep ngomporin teman2 utk nonton. jarang2 kan ada film kyk gini
By: mbakpipit on October 17, 2008
at 12:32 pm