Posted by: mbakpipit | February 2, 2009

yesterday

Yesterday
There was so many things I was never told
Now that I’m starting to learn I feel I’m growing old
Cause yesterday’s got nothing for me
Old pictures that I’ll always see
Time just fades the pages in my book of memories
Prayers in my pocket and no hand in destiny
I’ll keep on moving along with no time to plant my feet
Cause yesterday’s got nothing for me
Old pictures that I’ll always see
Some things could be better if we’d all just let them be
Yesterday’s got nothing for me
Yesterday’s got nothing for me
Got nothing for me
Yesterday
There was so many things I was never shown
Suddenly this time I found
I’m on the streets and I’m all alone
Yesterday’s got nothing for me
Old pictures that I’ll always see
I ain’t got time to reminisce this novelties
Yesterday’s got nothing for me
Yesterday’s got nothing for me
Yesterday’s got nothing for me
Yesterday

Posted by: mbakpipit | January 7, 2009

borobudur

Liburan akhir tahun kemarin aku ke Borobudur, ngajak ponakan2 jalan2. Pengennya sih brkt pagi2, biar ga kepanasan di sana, tp tnyt ga bisa lebih pagi dr j 8. Tnyt sepagi itu udah rame banget….

my nieces, nephew & me

stupa

puncak

tampak muka

Posted by: mbakpipit | January 5, 2009

new year

Masuk tahun baru, 2009, masih ada beberapa ganjalan 2008. Ada:
- Kerjaan yg belum selesai
- Janji yg belum aku penuhi
- Keinginan, harapan dan cita2 yg belum tercapai
- Doa yg belum dikabulkan
Mudah2an tahun ini lebih baik daripada tahun lalu. Amin

Posted by: mbakpipit | December 10, 2008

three cups of tea

Aku baru aja selesai baca ‘Three Cups of Tea’, tulisan Greg Mortenson & David Oliver Relin. Kisah nyata Greg Mortenson, seorang mantan pendaki gunung yg berubah menjadi aktivis di bidang pendidikan, terutama bagi anak-anak perempuan di daerah Lembah Skardu, Pakistan Utara.
Dimulai dari kegagalannya mencapai puncak K2, Himalaya, dalam keadaan letih dan hampir kehabisan oksigen, terpisah dari pemandu sekaligus portirnya, Mortenson tersesat masuk Desa Korphe yang belum pernah dilihatnya di peta. Ia dirawat oleh keluarga Haji Ali, nurmadhar (tetua kampung) desa itu, yang kelak menganggapnya seperti anak dan menjadi mentornya. Ia tinggal di rumah Haji Ali sampai pulih kesehatannya, dan sempat berkeliling kampung miskin di pegunungan Himalaya itu. Dilihatnya anak2 ‘bersekolah’ di lapangan terbuka, menulis di atas tanah dengan ranting pohon. Hatinya terketuk untuk membangun sekolah yang layak untuk anak2 itu, dan ia menjanjikannya kepada Haji Ali.
Ia kembali ke Amerika, berusaha mengumpulkan dana untuk mewujudkan janjinya. Ia mengirim 580 pucuk surat kepada tokoh2, orang2 kaya, dan hanya 1 yang berbalas: isinya cek senilai US$ 100. Bisa apa uang segitu? Akhirnya ada seorang ilmuwan sekaligus jutawan, Jean Hoerni, yg bersedia menyumbangkan US$ 12.000 untuk sekolah pertama, dengan ancaman: jangan main-main!
Mortenson kembali ke Korphe, membelanjakan dolar demi dolar untuk material sekolah. Ternyata baru disadari, butuh jembatan untuk mengangkut material itu ke atas. Mereka membangun jembatan dulu, sehingga pembangunan gedung sekolah tertunda. Mortenson kecewa, tapi Haji Ali menenangkannya, sementara di Amerika mulai banyak pendukung gerakan Mortenson. Jean Hoerni yang sudah merasa hidupnya segera berakhir mendirikan yayasan bernama Central Asia Institute, mengangkat Mortenson manjadi direkturnya, dan menyumbangkan jutaan dolar.
Sekolah pertama selesai dibangun, menyusul sekolah2 lain di kampung lain, bahkan sampai menyeberang ke Afghanistan, di tengah reruntuhan perang setelah Amerika menyerbu Afghanistan untuk menumbangkan Taliban. Berbagai rintangan dihadapi, baik di Pakistan, Afghanistan maupun di Amerika, namun selalu saja ada penyelamat di saat2 genting. Sulit dipercaya, ini kisah nyata.
Buku ini mengajarkan kita banyak hal.
Ketulusan masyarakat pegunungan Himalaya yang selalu menyambut orang asing dengan keramahan dan suguhan teh. Cangkir pertama: kamu masih orang asing. Cangkir kedua: kamu tamu yang dihormati. Cangkir ketiga: kamu adalah anggota keluarga, dan kami akan mengorbankan apa pun untuk keluarga.
Semangat anak2 pegunungan Himalaya untuk menempuh pendidikan dan keinginan kuat untuk kembali, memperbaiki taraf kehidupan di kampung halamannya.
Kegigihan Mortenson memperjuangkan pendidikan bagi anak2, terutama perempuan, di kampung2 di ‘halaman belakang’ Taliban. Usahanya meyakinkan berbagai pihak di Amerika bahwa untuk menumpas terorisme, yang dibutuhkan adalah pendidikan dan bukan senjata.
Kita juga belajar untuk tidak berprasangka buruk kepada orang asing. Memang pemerintah Amerika, khususnya era George W. Bush, punya ‘hobi’ memberikan cap ‘teroris’ kepada pihak lain khususnya kalangan Islam dan kemudian memerangi mereka. Tapi tidak semua warga negara itu bersikap begitu. Mortenson adalah salah satu contohnya.

Posted by: mbakpipit | November 5, 2008

November

Ga terasa, udah masuk bulan November. Ini bulan yg berat bagiku. Di bulan ini aku ulang tahun. Sejak kecil aku ga terbiasa merayakan ultah. Setelah jadi ABG, baru deh, kenal istilah ultah karena ada beberapa teman yg merayakannya dg mengundang teman2 sekolah dan tetangga. Sekarang udah tuwir, dan ultah berarti jatah umur berkurang lagi, sementara dosa masih banyak dan amal baik masih jauh dari cukup. Semoga Allah masih memberiku kesempatan untuk bertaubat. Amiin.

Di bulan ini juga aku kehilangan kedua orangtuaku. Lima tahun lalu, Selasa 4 November 2003, bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan, Abah dipanggil kembali ke hadirat Allah swt. Dan aku ga ada di rumah. Waktu itu aku masih di Surabaya, pas hari terakhir UTS. Biasanya aku pulang kampung awal Ramadhan, tapi kali ini aku pulang seminggu sebelum Ramadhan karena mau ujian. Abah & Ibu ok aja. Ternyata itu terakhir kali aku ketemu Abah. Malam terakhir ujian, HP aku tinggal di mobil dua2nya. Pas mau pulang, aku iseng ngecek HP. Perasaanku udah ga enak waktu liat ada missed call sampe 8 kali, dari orang rumah semua. Dan aku lemes banget waktu baca SMS dari kakak iparku, ‘Abah seda’…. Tenggorokanku kering, rasanya ga percaya ada kabar kyk gitu. Baru 2 minggu yg lalu aku ketemu, Abah sehat2 aja, dan sama sekali ga keberatan aku ga mengawali puasa di rumah, kenapa sekarang meninggal? Aku ga tau lagi pulang ke kos itu nabrak ato ga. Pikiranku cuma satu: cepet sampe kos, naruh mobil, terus ke terminal, naik bis pulang kampung.

Naik bis Eka jam 10 malam. Rasanya itu bis jalannya lambat banget, ga nyampe2. Selama perjalanan aku ga bisa tidur. Aku masih berharap ada telp ato SMS ngeralat kabar kematian itu, tp ga ada. Sampe rumah j 4.30 pagi, udah rame. Ibu yg biasa menyambut kepulanganku dg senyum, kali ini memelukku sambil nangis. Dan saat inilah tangisku pecah: aku ga punya Abah lagi….

Ibu n adikku cerita, kemarin buka puasa Abah minum teh anget, makan pisang goreng, trus ngerokok. Baru bangkit mau wudhu utk salat maghrib, Abah ngeluh dadanya sakit, napasnya sesak sampe kakinya nendang2 ke mana2. Adikku manggil masku no.2 yg tinggal di belakang rumah. Dokter dipanggil, tp ga bisa dtg krn lagi banyak pasien. Akhirnya manggil mantri, trus lsg mau dibawa ke RSU Muntilan. Tapi rupanya Allah berkehendak lain. Belum separo jalan, Abah udah ga bernafas lagi, denyut nadinya udah ga ada. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun….. Aku mandi, ambil wudhu, ikut salat jenazah. Insya Allah Abah khusnul khatimah.

Toh aku sempat marah sama Tuhan. Banyak orang yg lebih tua, lebih sakit2an, kenapa harus bapakku yg diambil-Nya? Kenapa Abah dipanggil sebelum sempat pergi haji? Kenapa Allah ga kasih kesempatan Abah utk jadi wali nikahku? Aku merasa dikhianati. Tapi untung perasaan itu ga berlarut2. Aku masih punya Ibu. Dan Allah melarang orang sedih berkelanjutan. Life goes on.

Tapi ternyata 3 tahun kemudian bencana itu datang lagi. Kamis malam, 30 November 2006, aku dibangunin telp dari adikku. Di ujung sana dia nangis, bilang Ibu udah ga ada. What????? Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Jam 12 malam, gimana caranya aku pulang kampung? Setengah jam aku cuma bisa nangis, sampe ibu kos masuk kamar menenangkanku n aku bisa telp teman kantor. Trus ada teman nganterin pulang pake mobilnya. Sama kyk waktu Abah dulu, kali ini pun perjalanan terasa lama banget. Ga bisa tidur juga. Dan ga ada telp ato SMS ralat kabar.

Di rumah udah rame, dan aku baru percaya kebenaran kabar itu. Jenazah ada di ruang tamu, kyk org tidur aja. Habis shalat aku dengerin cerita adikku. Semalem, 11.30-an, Ibu ngetok kamar adikku, bilang sesak napas. Minta permen pedes, ga ada. Trus dipijitin ma adikku. Makin sesak napas, sambil terus2an istighfar n baca tahlil. Adikku panik, manggil masku. Langsung diputusin: rumah sakit! Tp persis kyk Abah, belum separo perjalanan, udah meninggal. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun…..

Sekitar 3 bulan sebelum meninggal, Ibu sempat pesen: Mbak, aku titip Uq ya… (Uq itu adikku bungsu, yg selama ini nemenin Ibu di rumah)… Aku jawab ‘nggih’ tanpa mikir apa2. Emangnya kita layak mikir kalo ortu kita minta sesuatu? Apalagi cuma sekedar nitipin adik kita sendiri. Tapi habis itu aku mikir juga, kenapa Ibu bilang gitu? Masa aku mau ditinggal? Aku berusaha menghibur diri: ah, moga2 aja maksudnya cuma nitip biar biaya kuliah adikku aku yg beresin… Ternyata bener, aku ditinggal.

Aku merasa Tuhan begitu membenciku. Ia memalingkan muka-Nya dariku, mengacuhkan doaku. Kenapa aku harus kehilangan ibu, sementara bapakku baru 3 tahun yg lalu diambil-Nya? Apa maksud semua ini?

Perlu waktu lama untuk pulih dari rasa sedih, sakit dan kecewa itu. Aku stress. Siklus mens kacau, dan aku makin temperamental. Kadang aku melakukan sesuatu tanpa tujuan dan alasan yg jelas. Hanya iman yg menyelamatkanku. Tanpa itu, mungkin aku udah gila, ato minimal depresi. Alahamdulillah aku masih punya iman, meskipun kadarnya naik-turun, dan akal sehat. Dan sekarang aku di Semarang, lebih dekat ke rumah, bisa tiap minggu pulang kampung. Di rumah, aku merasa punya keluarga yg menyayangiku, bahkan rasa2nya Abah & Ibu masih ada bersama kami.

Di sisa umurku yg entah tinggal berapa lama lagi ini, aku cuma berusaha memenuhi amanah ortu. Hidup rukun sama sodara2, nyambung tali silaturahim sama famili dari Abah & Ibu. Satu lagi: haji, karena mereka berdua belum sempat menunaikannya. Insya Allah.

Posted by: mbakpipit | October 17, 2008

laskar pelangi on screen

kemarin siang aku nonton ‘laskar pelangi’ di e-plaza, simpang lima.

jujur, aku agak kecewa sama film ini. ga sebagus bukunya. cut mini terlalu cantik utk memerankan bu muslimah. rieke oneng kurang melayu logatnya, dan mathias muchus kurang mewakili sosok ayah ikal yg pendiam. selebihnya, pemain2 cilik itu justru lebih cocok. tampang mereka cukup ‘udik’, mungkin karena mereka memang anak2 asli belitong.

seperti banyak film berbasis novel, film ini juga ga terlalu patuh sama novelnya. banyak improvisasi di sana-sini, termasuk ada tokoh pak bakri, guru sd muhammadiyah yg akhirnya tergoda pindah mengajar di sekolah lain. ada juga pak mahmud, guru sd pn timah yg naksir bu mus. ada lagi pak zul, tokoh yg bersimpati sama sd muhammadiyah n rajin kirim beras ke sekolah. trus tokoh pak harfan yg ‘dimatikan’ mendekati akhir film, yg bikin bu mus hampir patah semangat mengajar anak2 sendirian. selebihnya, jalan cerita hampir sama dg novel. banyak adegan yg bikin kita terharu, sedih, kadang juga bikin ketawa. waktu ikal jatuh cinta gara2 lihat kuku2 cantik aling dan dunia sekitarnya seakan berbunga2, aku ketawa ngakak. jangan2 kita semua ngerasa gitu waktu jatuh cinta, haha! dan waktu ikal patah hati dan rasanya barang2 di toko sinar harapan itu rubuh semua, aduh, kasihan…..

adegan paling menarik adalah karnaval 17 agustusan, pas anak2 sd muhammadiyah di bawah komando mahar menari sampai gatal2 dan akhirnya juara 1. piala dipajang di lemari kaca yg susah ditutup karena longgar. berkali2 bu mus menutup pintu kaca itu, terbuka lagi. lintang yg menyelesaikan masalah, pintu lemari itu diganjal dg kertas. cukup cerdas.

yg paling bikin sedih adalah lintang terpaksa putus sekolah, nggantiin tugas bapaknya yg meninggal. dia harus melaut, menghidupi diri n adik2nya. saat dia ke sekolah utk pamitan ke guru dan teman2nya, n ikal ngejar dia sambil nangis….

well, memang ga ada karya yg sempurna, apalagi film ini memang udah ‘terbebani’ oleh novelnya yg best seller n dipuji banyak kalangan. biar gimana juga, salut ma riri riza n mira lesmana yg udah menghidupkan roh novel ini ke film. n yg ga boleh dilupain, semangat yg ditiupkan oleh buku n film ini. n kita diingatkan bahwa selama ini dunia pendidikan sudah meninggalkan kaum miskin, seolah2 mereka ga berhak sekolah. mudah2an setelah ini dunia pendidikan kita jadi lebih manusiawi, ga cuma berorientasi ke angka n duit. semoga.

Posted by: mbakpipit | October 16, 2008

koiku mati

aku belum cerita ya… selama 3 bulan ini aku punya piaraan: ikan koi. ada 20 ekor, masih kecil2. dikasih ma anaknya oomku. tadinya sih aku pengen piara gurami aja biar ga ribet. aku kan cuma wiken aja di rumah, jd pengennya ikan yg ga perlu banyak perawatan. lagian, kolam itu kan di depan rumah. panas, ga ada pelindungnya sama sekali. airnya cepet kotor n lumutan. gurami kan lebih tahan. air kotor juga ok. tnyt pas aku ke rumah oom yg juragan ikan, pas ga ada bibit gurami. malah aku dikasih koi. ya udah, gpp, aku bawa pulang n bismillah, aku lepas ke kolam depan rumah itu. kalo aku ga di rumah, ponakanku yg kasih makan. kalo wiken, giliranku. asyik lho liat ikan yg lsg dtg pas kita kasih makan gitu. singkat cerita, ikan2 itu udah makin gede, panjangnya udah sekitar 10-12 cm.

nah, senin tgl 13 okt kmrn aku ga ngantor. lg dinas luar, kebetulan badan rasanya ga enak dr hari jumat. selama wiken kan aku ga nengok2 kolam tuh, krn msh lemes. senin aku liat, kok colokan pompa kolam ga dipasang? aku colokin, bunyinya ngrooooong…. kyk ga kerendem air gitu. pas aku liat kolam, waduh, udah kering, ga ada airnya sama sekali! n aku ngenes banget liat ikan2 koi yg udah mati kaku di dasar kolam. aku liat sumbatnya, udah lepas. waduh, kerjaan siapa nih? kapan kejadiannya? aku tanya org2 rumah, ga ada yg tau. kok bisa sih?

yah, nasib….

Posted by: mbakpipit | October 10, 2008

reuni sma

sabtu, 04 oktober 2008, aku dtg ke reuni sma 1 mgl angk 90 di rumah makan moro sakeco, klegen, magelang. ini pertama kalinya aku dtg setelah berkali2 ‘mangkir’ dr undangan reuni. penasaran aja, pengen ktemu tmn2 yg udah lama hilang kontak. bener lho, banyak yg aku blas ga ktemu stlh lulus sma th 90, jd udah 18 th yg lalu.

asyik juga ktemu tmn2 lama gitu. cerita, ngobrol sana-sini, haha-hihi, makan, foto2…. kyknya sma tuh baru kemarin. banyak yg tampangnya msh kyk jaman sma, tp ada juga yg aku pangling. ada jg yg aku ingat muka tp lupa namanya. pas salaman, dia inget namaku, waduh… aku jd malu krn lupa namanya. diledekin habis2anlah, haha!

salah satu yg dibahas kmrn adalah ide utk memberikan beasiswa bagi anak2 pinter yg ortunya kurang mampu, supaya bisa masuk sma 1 mgl. rupanya skrg sma 1 berstandar internasional. uang masuknya 5 jt, bulanannya 200 ribu. relatif mahal utk ukuran kota kecil spt mgl. akibatnya, banyak anak pinter yg ga bisa masuk sana, larinya ke sma 3 ato ke muntilan. yg masuk sma 1 anak orang kaya yg belum tentu sepinter anak2 yg kurang beruntung itu. so, kita ada rencana ngumpulin dana, kalo bisa setahun 1 ato 2 anak kita kasih beasiswa. mudah2an bisa bantu.

Posted by: mbakpipit | September 17, 2008

masjid agung jawa tengah

kemarin (selasa 160908) pulang kantor aku mampir ke masjid agung jawa tengah di jl. gajah, semarang. penasaran aja, masa udah setaun di smg belum pernah masuk masjid agung, cuma liat dr jalan tol, hehe…..

masjid ini kyknya emang jadi objek wisata. megah banget, luas, bagus. di kompleks masjid ada juga toko suvenir n hotel. tp sayang orang2 yg berkunjung ke situ nggak menghargai kebersihan, jorok, buang sampah sembarangan. kolam di depan, yg mestinya bagus n ada air mancurnya, jadi kolam sampah. bahkan di lantai yg udah masuk area suci pun masih ada puntung rokok n sedotan minuman. masya allah!

heran juga, ga ada kegiatan apa pun di masjid. tadinya aku ngebayangin, minimal ada anak2 TPA or kultum menjelang maghrib. ini sama sekali ga ada. cuma orang2 yg -mungkin- kyk aku, sekedar mampir ke situ.  ramadhan gitu loh, malam nuzulul quran pula! sayang ya, masjid sebagus ini… ya udah, akhirnya aku juga cuma jalan2, foto2, buka puasa, shalat maghrib, trus pulang.

Posted by: mbakpipit | August 26, 2008

mimpi

Semalam aku ngimpi ketemu Ibu. Aku peluk Ibu sambil nangis, minta beliau jangan ninggalin aku lagi. Tadinya Ibu diam, cuma balas memelukku, tapi akhirnya ngangguk, menyanggupi permintaanku. Tapi habis itu aku bangun dan kecewa, krn tnyt Ibu nggak ada di dekatku.

Kemarin pagi, bangun tidur aku udah ngerasa ga enak badan, ada gejala flu. Pusing, hidung ‘pengar’, tenggorokan sakit, badan pegel2 semua. Aku paksakan diri brkt ke smg krn mau ada pengarahan. Siang habis dhuhur, kepala makin berat aja. Tidur di ruangan sampe sore. Pulang ke kos ga mandi, tidur. Bangun cuma utk salat, tidur lagi. & tnyt malah ngimpi itu.

Kenapa tiap sakit aku ngimpi ketemu Ibu atau Abah? Sebulan lalu, waktu flu berat, aku ngimpi Abah & Ibu pulang, trus nginep semalam di rumah. Dan waktu mereka mau pergi lagi, aku nangis meluk Ibu, minta mereka tetep tinggal di rumah, tp toh mereka pergi juga.

Benarkah yg orang2 bilang, mereka yg udah meninggal itu tetep bersama kita, mengawasi kita dari jauh? Mungkin ya, makanya Ibu selalu datang menjenguk kalo aku lagi sakit, meski cuma dalam mimpi.

Older Posts »

Categories